Sabtu, 20 September 2014

CERPEN : Cerita Pendek

JURU MASAK
          Perhelatan bias kacau tanpa kehadiran lelaki itu . Gulai kambing akan terasa hambar lantaran racikan bumbu tidak meresap kedalam daging . Kuah gulai kentang dan gulai rembung bakal encer karena keliru menakar jumlah kelapa parut hingga setiap menu masakan kekurangan santan . Akibatnya, berseraklah fitnah dan celaan yang mesti ditanggung tuan rumah . Bukan karena kenduri kurang meriah, tidak pula karena pelaminan tempat bersandingnya pasangan pengantin tak sedap dipandang mata, tetapi karena macam-macam hidangan yang tersuguh tidak menggugah selera . Nasi banyak dan gulai melimpah, tetapi helat tidak bikin kenyang . Ini celakanya bila Makaji, juru masak handal itu tidak dilibatkan .
          Beberapa tahun lalu, pesta perkawinan Gentasari dengan Rustamadji yang digelar menyembelih tiga belas ekor kambing dan berlangsung selama tiga hari, tidak berjalan mulus, bahkan hamper saja batal . Keluarga mempelai pria merasa di bohongi oleh keluarga mempelai wanita yang semula sudah berjanji bahwa semua urusan masak-memasak selama kenduri berlangsung akan dipercayakan kepada Makaji, juru masak nomor satu di Lareh Panjang ini. Namun, di hari pertama perhelatan, ketika rombongan keluarga mempelai pria tiba, gulai kambing, gulai nangka, gulai kentang, gulai rebung, dan aneka hidangan yang terjadi ternyata bukan masakan Makaji. Mana mungkin keluarga calon besan bias dibohongi ? Lidah mereka sudah sangat terbiasa dengan masakan Makaji.
“Kalau besok gulai nangka masih sehambar ini, keduri tak usah dilanjutkan! “
Ancaman Sutan Basabatuah, penghulu tinggi dari keluarga Rustamadji.
“Apa susahnya mendatangkan Makaji ?”
“Percuma bikin helat besar-besaran bila menu yang terhidang hanya bikin malu.”
Begitulah pentingnya Makaji. Tanpa campur tangannya, kenduri terasa hambar, sehambar gulai kambing dan gulai rebung karena bumbu-bumbu tak diracik oleh tangan dingin lelaki itu. Sejak dulu, Makaji tidak pernah keberatan membantu mana saja yang hendak menggelar pesta, tak peduli apakah tuan rumah itu orang terpandang yang tamunya membludak atau orang biasa yang hanya sanggup menggelar syukuran seadanya. Makaji tak pilih kasih, meski ia satu-satunya juru masak yang masih tersisah di Lareh Panjang. Di usia senja, ia masih tangguh menahan kantuk, tangannya tetap gesit meracik bumbu, masih kuat ia berjaga semalam suntuk.
“Separuh umur Ayah sudah habis untuk membantu kenduri di kampong ini, bagaimana kalau tanggung jawab itu dibebankan kepada yang lebih muda ?”saran Azrial, putra sulung Makaji sewaktu ia pulang kampong enam bulan lalu.
“Mungkin sudah saatnya Ayah berhenti.”
“Belum ! Akan Ayah pikul beban ini hingga tangan Ayah tak lincah lagi meracik bumbu,” balas Makaji waktu itu.
“Kalau memang masih ingin jadi juru masak, bagaimana Ayah jadi juru masak di salah satu rumah makan milik saya di Jakarta ? Saya tak ingin lagi berjauhan dengan Ayah.”
          Sejak Makaji diam mendengar tawaran Azrial. Tabiat orang tua memang selalu begitu, walau terasa manis gula, tak bakal langsung direguknya, meski sepahit empedu tidak pula buru-buru dimuntahkannya, meski matang ia menimbang. Makaji memang sudah lama menunggu ajakan seperti itu. Orang tua mana yang tak ingin berkumpul dengan anaknya di hari tua ? Dan kini, gayung telah bersambut, sekali saja ia mengangguk, Azrial akan segera memboyongnya ke rantau. Makaji tetap akan mempunyai kesibukan di Jakarta, ia akan jadi juru masak di rumah makan milik anaknya sendiri.
“Beri Ayah kesempatan satu kenduri lagi !”
“Kenduri siapa ?” Tanya Azrial.
“Mengkudun. Anak gadisnya baru saja dipinang orang. Sudah terlanjur Ayah sanggupi, malu kalau tiba-tiba dibatalkan.”
          Merah padam muka Azrial mendengar nama itu. Siapa lagi anak gadis Mengkudun kalau bukan Renggogeni, perempuan masa lalunya. Musabab hengkangnya ia dari Lareh Panjang, ia dijuluki tuan tanah, hamper sepertiga wilayah kampong ini miliknya. Sejak dulu, orang-orang Lareh Panjang yang kesulitan uang selalu beres ditangannya. Mereka tinggal menyebutkan sawah, ladang, atau tambak ikan sebagai agunan. Dengan senang hati  Mangkudun akan memegang gadaian itu.
          Masih segar dalam ingatan Azrial, waktu itu Renggogeni hamper tamat dari akademi perawatan di kota. Tidak banyak Lareh Panjang yang bias bersekolah tinggi seperti Renggogeni. Perempuan kuning langsat pujaan Azrial itu benar-benar akan menjadi juru rawat. Sementara Azrial bukan siapa-siapa, hanya tamatan madrasah aliyah yang sehari-hari bekerja honorer sebagai sekretaris di kantor kepala desa. Ibarat emas yang Loyang perbedaan mereka.
“Bahkan bila ia jadi kepala desa pun, tak sudi saya punya menantu anak juru masak !”bentak Mangkudun. Dan tak lama berselang, kabar ini berdengung juga di telinga Azrial.
“Dia laki-laki taat, jujur, bertanggung jawab. Renggo yakni kami berjodoh.”
“Apa kau bilang ? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat !”
“Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak ?”
“Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau ?”
          Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, taka da yang bisa diandalkan. Tetapi tidak patut rasanya Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. Ia hengkang dari kampong, pergi membawa luka hati.
          Awalnya ia hanya tukang cuci piring di rumah makan milik seorang perantau dari Lareh Panjang yang lebih dulu mengadu untung di Jakarta. Sedikit demi sedikit dikumpulkannya modal, agar tidak selalu bergantung pada induk semang. Berkat kegigihannya dan kerja keras selama bertahun-tahun. Azrial kini sudah jadi juragan, punya enam rumah makan dan dua puluh anak buah yang tiap hari sibuk melayani pelanggan.
          Barangkali, ada hikmanya juga Azrial mempersunting anak gadis Mangkudun. Kini , lelaki itu kerap disebut sebagai orang Lareh Panjang paling sukses di rantau. Itu sebabnya ia ingin membawa Makaji ke Jakarta. Lagi pula, sejak ibunya meninggal, ayahnya itu sendirian saja di rumah. Tak ada yang merawatnya. Adik-adiknya sudah pergi hamburan ke negeri orang.
          Meski hidup Azrial sudah mapan, tetapi ia masih membujang. Banyak yang ingin mengambilnya jadi menantu, tetapi tak  seorang pun perempuan pun yang mampu meluluhkan hatinya. Mungkin Azrial masih sulit melupakan Renggogeni, atau jangan-jangan ia tak sungguh-sungguh melupakan perempuan itu.
          Kenduri di rumah Mangkudun begitu semarak. Dua kali meriam ditembakkan ke langit,  pertanda dimulainya perhelatan agung. Tak biasanya pusaka peninggalan sesepuh adat Lareh Panjang itu dikeluarkan. Bila yang menggelar dipertontonkan. Para tertua kampong menyiapkan pertunjukkan pencak guna menyambut ke datangan mempelai pria. Para pesilat turut ambil bagian memeriahkan pesta perkawinan anak gadis orang terkaya di Lareh Panjang itu. Maklumlah, menantu Mangkudun bukan orang kebanyakannya, tetapi perwira muda kepolisian yang baru dua tahun bertugas, anak bungsunya pensiun di tentaranya, orang disegani di kampong sebelah. Kabarnya, Mangkudun sudah banyak membantu laki-laki itu, sejak dari sebelum ia lulus di akademi kepolisian hingga resmi jadi perwira muda. Terdengar kabar bahwa perjodohan itu terjadi karena keluarga pengantin pria hendak membalas jasa yang dilakukan Mangkudun di masa lalu. Aih, perkawinan atas dasar hutang budi.
          Mangkudun benar-benar menepati janji pada Renggogeni, bahwa ia akan mencarikan jodoh yang sepadan dengan anak gadisnya itu, yang jauh lebih bermartabat. Tenggoklah, Renggogeni kini telah bersanding dengan Yusnaldi, perwira muda polisi yang bila tidak “macam-macam” tentu kariernya lekas menanjak. Duh, betapa beruntungnya keluarga besar Mangkudun. Tetapi, pesta yang digelar dengan menyembelih tiga ekor kerbau jantan dan tujuh ekor kambing itu tidak begitu  ramai dikunjungi. Orang-orang Lareh Panjang hanya dating di hari pertama, sekedar menyaksikan benda-benda pusaka adat yang dikeluarkan untuk menyemarakkan keduri, setelah itu mereka berbalik meninggalkan helatan. Bahkan ada yang belum sempat mencicipin hidangan, sudah tergesa-gesa pulang.
“Gulai kambingnya taka ada rasa,” bisik seorang tamu.
“Kuah gulai rebungnya encer seperti kuah sayur toge. Kembang perut kami dibuatnya .”
“Masakanya tak mengenyangkan, tak mengundang selera.”
“Pasti juru masaknya bukan Makaji !”
          Makin ke ujung, kenduri makin sepi. Rombongan pengantar mempelai pria diam-diam juga kecewa pada tuan rumah, karena mereka hanya dijamu dengan menu masakan asal-asalan, kurang bumbu, kuah encer, dan daging yang tak kempuh. Padahal mereka bersemangat dating karena pesta perkawinan di Lareh Panjang mempunyai keistimewaan tersendiri, yaitu rasa masakan hasil olah tangan juru masak nomor satu. Siapa lagi kalau bukan Makaji ?
“Kenapa Makaji tidak turun tangan dalam kenduri sepenting ini ?” begitu mereka bertanya-tanya.
“Sia-sia saja kenduri ini bila bukan Makaji yang meracik bumbu.”
“Ah, menyesal kami dating ke pesta ini.”
          Dua hari sebelum kenduri berlangsung, Azrial, anak laki-laki Makaji datang dari Jakarta. Ia pulang untuk menjemput Makaji. Kini, juru masak itu sudah berada di Jakarta, mungkin tak akan kembali, sebab ia akan menghabiskan hari tua di dekat anaknya. Orang-orang Lareh Panjang akan kehilangan juru masak handal yang pernah ada di kampong itu. Kabar kepergian Makaji sampai juga ke telinga pengantin baru Renggogeni. Perempuan itu dapat membanyangkan betapa terpiuhnya perasaan Azrial setelah mendengar kabar kekasih pujaannya telah dipersunting laki-laki lain.



No.
Struktur Teks
Kalimat dalam Teks
  1.  
Abstrak
Perhelatan bias kacau tanpa kehadiran lelaki itu . Gulai kambing akan terasa hambar lantaran racikan bumbu tidak meresap kedalam daging . Kuah gulai kentang dan gulai rembung bakal encer karena keliru menakar jumlah kelapa parut hingga setiap menu masakan kekurangan santan . Akibatnya, berseraklah fitnah dan celaan yang mesti ditanggung tuan rumah . Bukan karena kenduri kurang meriah, tidak pula karena pelaminan tempat bersandingnya pasangan pengantin tak sedap dipandang mata, tetapi karena macam-macam hidangan yang tersuguh tidak menggugah selera . Nasi banyak dan gulai melimpah, tetapi helat tidak bikin kenyang . Ini celakanya bila Makaji, juru masak handal itu tidak dilibatkan .

  1.  
Orientasi
Beberapa tahun lalu, pesta perkawinan Gentasari dengan Rustamadji yang digelar menyembelih tiga belas ekor kambing dan berlangsung selama tiga hari, tidak berjalan mulus, bahkan hamper saja batal . Keluarga mempelai pria merasa di bohongi oleh keluarga mempelai wanita yang semula sudah berjanji bahwa semua urusan masak-memasak selama kenduri berlangsung akan dipercayakan kepada Makaji, juru masak nomor satu di Lareh Panjang ini. Namun, di hari pertama perhelatan, ketika rombongan keluarga mempelai pria tiba, gulai kambing, gulai nangka, gulai kentang, gulai rebung, dan aneka hidangan yang terjadi ternyata bukan masakan Makaji. Mana mungkin keluarga calon besan bias dibohongi ? Lidah mereka sudah sangat terbiasa dengan masakan Makaji.
“Kalau besok gulai nangka masih sehambar ini, keduri tak usah dilanjutkan! “
Ancaman Sutan Basabatuah, penghulu tinggi dari keluarga Rustamadji.
“Apa susahnya mendatangkan Makaji ?”
“Percuma bikin helat besar-besaran bila menu yang terhidang hanya bikin malu.”
Begitulah pentingnya Makaji. Tanpa campur tangannya, kenduri terasa hambar, sehambar gulai kambing dan gulai rebung karena bumbu-bumbu tak diracik oleh tangan dingin lelaki itu. Sejak dulu, Makaji tidak pernah keberatan membantu mana saja yang hendak menggelar pesta, tak peduli apakah tuan rumah itu orang terpandang yang tamunya membludak atau orang biasa yang hanya sanggup menggelar syukuran seadanya. Makaji tak pilih kasih, meski ia satu-satunya juru masak yang masih tersisah di Lareh Panjang. Di usia senja, ia masih tangguh menahan kantuk, tangannya tetap gesit meracik bumbu, masih kuat ia berjaga semalam suntuk.

  1.  
Komplikasi
“Separuh umur Ayah sudah habis untuk membantu kenduri di kampong ini, bagaimana kalau tanggung jawab itu dibebankan kepada yang lebih muda ?”saran Azrial, putra sulung Makaji sewaktu ia pulang kampong enam bulan lalu.
“Mungkin sudah saatnya Ayah berhenti.”
“Belum ! Akan Ayah pikul beban ini hingga tangan Ayah tak lincah lagi meracik bumbu,” balas Makaji waktu itu.
“Kalau memang masih ingin jadi juru masak, bagaimana Ayah jadi juru masak di salah satu rumah makan milik saya di Jakarta ? Saya tak ingin lagi berjauhan dengan Ayah.”
          Sejak Makaji diam mendengar tawaran Azrial. Tabiat orang tua memang selalu begitu, walau terasa manis gula, tak bakal langsung direguknya, meski sepahit empedu tidak pula buru-buru dimuntahkannya, meski matang ia menimbang. Makaji memang sudah lama menunggu ajakan seperti itu. Orang tua mana yang tak ingin berkumpul dengan anaknya di hari tua ? Dan kini, gayung telah bersambut, sekali saja ia mengangguk, Azrial akan segera memboyongnya ke rantau. Makaji tetap akan mempunyai kesibukan di Jakarta, ia akan jadi juru masak di rumah makan milik anaknya sendiri.
“Beri Ayah kesempatan satu kenduri lagi !”
“Kenduri siapa ?” Tanya Azrial.
“Mengkudun. Anak gadisnya baru saja dipinang orang. Sudah terlanjur Ayah sanggupi, malu kalau tiba-tiba dibatalkan.”
          Merah padam muka Azrial mendengar nama itu. Siapa lagi anak gadis Mengkudun kalau bukan Renggogeni, perempuan masa lalunya. Musabab hengkangnya ia dari Lareh Panjang, ia dijuluki tuan tanah, hamper sepertiga wilayah kampong ini miliknya. Sejak dulu, orang-orang Lareh Panjang yang kesulitan uang selalu beres ditangannya. Mereka tinggal menyebutkan sawah, ladang, atau tambak ikan sebagai agunan. Dengan senang hati  Mangkudun akan memegang gadaian itu.
          Masih segar dalam ingatan Azrial, waktu itu Renggogeni hamper tamat dari akademi perawatan di kota. Tidak banyak Lareh Panjang yang bias bersekolah tinggi seperti Renggogeni. Perempuan kuning langsat pujaan Azrial itu benar-benar akan menjadi juru rawat. Sementara Azrial bukan siapa-siapa, hanya tamatan madrasah aliyah yang sehari-hari bekerja honorer sebagai sekretaris di kantor kepala desa. Ibarat emas yang Loyang perbedaan mereka.
“Bahkan bila ia jadi kepala desa pun, tak sudi saya punya menantu anak juru masak !”bentak Mangkudun. Dan tak lama berselang, kabar ini berdengung juga di telinga Azrial.
“Dia laki-laki taat, jujur, bertanggung jawab. Renggo yakni kami berjodoh.”
“Apa kau bilang ? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat !”
“Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak ?”
“Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau ?”

  1.  
Evaluasi
Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, taka da yang bisa diandalkan. Tetapi tidak patut rasanya Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. Ia hengkang dari kampong, pergi membawa luka hati.

  1.  
Resolusi
          Awalnya ia hanya tukang cuci piring di rumah makan milik seorang perantau dari Lareh Panjang yang lebih dulu mengadu untung di Jakarta. Sedikit demi sedikit dikumpulkannya modal, agar tidak selalu bergantung pada induk semang. Berkat kegigihannya dan kerja keras selama bertahun-tahun. Azrial kini sudah jadi juragan, punya enam rumah makan dan dua puluh anak buah yang tiap hari sibuk melayani pelanggan.
          Barangkali, ada hikmanya juga Azrial mempersunting anak gadis Mangkudun. Kini , lelaki itu kerap disebut sebagai orang Lareh Panjang paling sukses di rantau. Itu sebabnya ia ingin membawa Makaji ke Jakarta. Lagi pula, sejak ibunya meninggal, ayahnya itu sendirian saja di rumah. Tak ada yang merawatnya. Adik-adiknya sudah pergi hamburan ke negeri orang.
          Meski hidup Azrial sudah mapan, tetapi ia masih membujang. Banyak yang ingin mengambilnya jadi menantu, tetapi tak  seorang pun perempuan pun yang mampu meluluhkan hatinya. Mungkin Azrial masih sulit melupakan Renggogeni, atau jangan-jangan ia tak sungguh-sungguh melupakan perempuan itu.


  1.  
Koda
Dua hari sebelum kenduri berlangsung, Azrial, anak laki-laki Makaji datang dari Jakarta. Ia pulang untuk menjemput Makaji. Kini, juru masak itu sudah berada di Jakarta, mungkin tak akan kembali, sebab ia akan menghabiskan hari tua di dekat anaknya. Orang-orang Lareh Panjang akan kehilangan juru masak handal yang pernah ada di kampong itu. Kabar kepergian Makaji sampai juga ke telinga pengantin baru Renggogeni. Perempuan itu dapat membanyangkan betapa terpiuhnya perasaan Azrial setelah mendengar kabar kekasih pujaannya telah dipersunting laki-laki lain.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar