Sabtu, 20 September 2014

CERPEN : Cerita Pendek

JURU MASAK
          Perhelatan bias kacau tanpa kehadiran lelaki itu . Gulai kambing akan terasa hambar lantaran racikan bumbu tidak meresap kedalam daging . Kuah gulai kentang dan gulai rembung bakal encer karena keliru menakar jumlah kelapa parut hingga setiap menu masakan kekurangan santan . Akibatnya, berseraklah fitnah dan celaan yang mesti ditanggung tuan rumah . Bukan karena kenduri kurang meriah, tidak pula karena pelaminan tempat bersandingnya pasangan pengantin tak sedap dipandang mata, tetapi karena macam-macam hidangan yang tersuguh tidak menggugah selera . Nasi banyak dan gulai melimpah, tetapi helat tidak bikin kenyang . Ini celakanya bila Makaji, juru masak handal itu tidak dilibatkan .
          Beberapa tahun lalu, pesta perkawinan Gentasari dengan Rustamadji yang digelar menyembelih tiga belas ekor kambing dan berlangsung selama tiga hari, tidak berjalan mulus, bahkan hamper saja batal . Keluarga mempelai pria merasa di bohongi oleh keluarga mempelai wanita yang semula sudah berjanji bahwa semua urusan masak-memasak selama kenduri berlangsung akan dipercayakan kepada Makaji, juru masak nomor satu di Lareh Panjang ini. Namun, di hari pertama perhelatan, ketika rombongan keluarga mempelai pria tiba, gulai kambing, gulai nangka, gulai kentang, gulai rebung, dan aneka hidangan yang terjadi ternyata bukan masakan Makaji. Mana mungkin keluarga calon besan bias dibohongi ? Lidah mereka sudah sangat terbiasa dengan masakan Makaji.
“Kalau besok gulai nangka masih sehambar ini, keduri tak usah dilanjutkan! “
Ancaman Sutan Basabatuah, penghulu tinggi dari keluarga Rustamadji.
“Apa susahnya mendatangkan Makaji ?”
“Percuma bikin helat besar-besaran bila menu yang terhidang hanya bikin malu.”
Begitulah pentingnya Makaji. Tanpa campur tangannya, kenduri terasa hambar, sehambar gulai kambing dan gulai rebung karena bumbu-bumbu tak diracik oleh tangan dingin lelaki itu. Sejak dulu, Makaji tidak pernah keberatan membantu mana saja yang hendak menggelar pesta, tak peduli apakah tuan rumah itu orang terpandang yang tamunya membludak atau orang biasa yang hanya sanggup menggelar syukuran seadanya. Makaji tak pilih kasih, meski ia satu-satunya juru masak yang masih tersisah di Lareh Panjang. Di usia senja, ia masih tangguh menahan kantuk, tangannya tetap gesit meracik bumbu, masih kuat ia berjaga semalam suntuk.
“Separuh umur Ayah sudah habis untuk membantu kenduri di kampong ini, bagaimana kalau tanggung jawab itu dibebankan kepada yang lebih muda ?”saran Azrial, putra sulung Makaji sewaktu ia pulang kampong enam bulan lalu.
“Mungkin sudah saatnya Ayah berhenti.”
“Belum ! Akan Ayah pikul beban ini hingga tangan Ayah tak lincah lagi meracik bumbu,” balas Makaji waktu itu.
“Kalau memang masih ingin jadi juru masak, bagaimana Ayah jadi juru masak di salah satu rumah makan milik saya di Jakarta ? Saya tak ingin lagi berjauhan dengan Ayah.”
          Sejak Makaji diam mendengar tawaran Azrial. Tabiat orang tua memang selalu begitu, walau terasa manis gula, tak bakal langsung direguknya, meski sepahit empedu tidak pula buru-buru dimuntahkannya, meski matang ia menimbang. Makaji memang sudah lama menunggu ajakan seperti itu. Orang tua mana yang tak ingin berkumpul dengan anaknya di hari tua ? Dan kini, gayung telah bersambut, sekali saja ia mengangguk, Azrial akan segera memboyongnya ke rantau. Makaji tetap akan mempunyai kesibukan di Jakarta, ia akan jadi juru masak di rumah makan milik anaknya sendiri.
“Beri Ayah kesempatan satu kenduri lagi !”
“Kenduri siapa ?” Tanya Azrial.
“Mengkudun. Anak gadisnya baru saja dipinang orang. Sudah terlanjur Ayah sanggupi, malu kalau tiba-tiba dibatalkan.”
          Merah padam muka Azrial mendengar nama itu. Siapa lagi anak gadis Mengkudun kalau bukan Renggogeni, perempuan masa lalunya. Musabab hengkangnya ia dari Lareh Panjang, ia dijuluki tuan tanah, hamper sepertiga wilayah kampong ini miliknya. Sejak dulu, orang-orang Lareh Panjang yang kesulitan uang selalu beres ditangannya. Mereka tinggal menyebutkan sawah, ladang, atau tambak ikan sebagai agunan. Dengan senang hati  Mangkudun akan memegang gadaian itu.
          Masih segar dalam ingatan Azrial, waktu itu Renggogeni hamper tamat dari akademi perawatan di kota. Tidak banyak Lareh Panjang yang bias bersekolah tinggi seperti Renggogeni. Perempuan kuning langsat pujaan Azrial itu benar-benar akan menjadi juru rawat. Sementara Azrial bukan siapa-siapa, hanya tamatan madrasah aliyah yang sehari-hari bekerja honorer sebagai sekretaris di kantor kepala desa. Ibarat emas yang Loyang perbedaan mereka.
“Bahkan bila ia jadi kepala desa pun, tak sudi saya punya menantu anak juru masak !”bentak Mangkudun. Dan tak lama berselang, kabar ini berdengung juga di telinga Azrial.
“Dia laki-laki taat, jujur, bertanggung jawab. Renggo yakni kami berjodoh.”
“Apa kau bilang ? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat !”
“Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak ?”
“Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau ?”
          Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, taka da yang bisa diandalkan. Tetapi tidak patut rasanya Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. Ia hengkang dari kampong, pergi membawa luka hati.
          Awalnya ia hanya tukang cuci piring di rumah makan milik seorang perantau dari Lareh Panjang yang lebih dulu mengadu untung di Jakarta. Sedikit demi sedikit dikumpulkannya modal, agar tidak selalu bergantung pada induk semang. Berkat kegigihannya dan kerja keras selama bertahun-tahun. Azrial kini sudah jadi juragan, punya enam rumah makan dan dua puluh anak buah yang tiap hari sibuk melayani pelanggan.
          Barangkali, ada hikmanya juga Azrial mempersunting anak gadis Mangkudun. Kini , lelaki itu kerap disebut sebagai orang Lareh Panjang paling sukses di rantau. Itu sebabnya ia ingin membawa Makaji ke Jakarta. Lagi pula, sejak ibunya meninggal, ayahnya itu sendirian saja di rumah. Tak ada yang merawatnya. Adik-adiknya sudah pergi hamburan ke negeri orang.
          Meski hidup Azrial sudah mapan, tetapi ia masih membujang. Banyak yang ingin mengambilnya jadi menantu, tetapi tak  seorang pun perempuan pun yang mampu meluluhkan hatinya. Mungkin Azrial masih sulit melupakan Renggogeni, atau jangan-jangan ia tak sungguh-sungguh melupakan perempuan itu.
          Kenduri di rumah Mangkudun begitu semarak. Dua kali meriam ditembakkan ke langit,  pertanda dimulainya perhelatan agung. Tak biasanya pusaka peninggalan sesepuh adat Lareh Panjang itu dikeluarkan. Bila yang menggelar dipertontonkan. Para tertua kampong menyiapkan pertunjukkan pencak guna menyambut ke datangan mempelai pria. Para pesilat turut ambil bagian memeriahkan pesta perkawinan anak gadis orang terkaya di Lareh Panjang itu. Maklumlah, menantu Mangkudun bukan orang kebanyakannya, tetapi perwira muda kepolisian yang baru dua tahun bertugas, anak bungsunya pensiun di tentaranya, orang disegani di kampong sebelah. Kabarnya, Mangkudun sudah banyak membantu laki-laki itu, sejak dari sebelum ia lulus di akademi kepolisian hingga resmi jadi perwira muda. Terdengar kabar bahwa perjodohan itu terjadi karena keluarga pengantin pria hendak membalas jasa yang dilakukan Mangkudun di masa lalu. Aih, perkawinan atas dasar hutang budi.
          Mangkudun benar-benar menepati janji pada Renggogeni, bahwa ia akan mencarikan jodoh yang sepadan dengan anak gadisnya itu, yang jauh lebih bermartabat. Tenggoklah, Renggogeni kini telah bersanding dengan Yusnaldi, perwira muda polisi yang bila tidak “macam-macam” tentu kariernya lekas menanjak. Duh, betapa beruntungnya keluarga besar Mangkudun. Tetapi, pesta yang digelar dengan menyembelih tiga ekor kerbau jantan dan tujuh ekor kambing itu tidak begitu  ramai dikunjungi. Orang-orang Lareh Panjang hanya dating di hari pertama, sekedar menyaksikan benda-benda pusaka adat yang dikeluarkan untuk menyemarakkan keduri, setelah itu mereka berbalik meninggalkan helatan. Bahkan ada yang belum sempat mencicipin hidangan, sudah tergesa-gesa pulang.
“Gulai kambingnya taka ada rasa,” bisik seorang tamu.
“Kuah gulai rebungnya encer seperti kuah sayur toge. Kembang perut kami dibuatnya .”
“Masakanya tak mengenyangkan, tak mengundang selera.”
“Pasti juru masaknya bukan Makaji !”
          Makin ke ujung, kenduri makin sepi. Rombongan pengantar mempelai pria diam-diam juga kecewa pada tuan rumah, karena mereka hanya dijamu dengan menu masakan asal-asalan, kurang bumbu, kuah encer, dan daging yang tak kempuh. Padahal mereka bersemangat dating karena pesta perkawinan di Lareh Panjang mempunyai keistimewaan tersendiri, yaitu rasa masakan hasil olah tangan juru masak nomor satu. Siapa lagi kalau bukan Makaji ?
“Kenapa Makaji tidak turun tangan dalam kenduri sepenting ini ?” begitu mereka bertanya-tanya.
“Sia-sia saja kenduri ini bila bukan Makaji yang meracik bumbu.”
“Ah, menyesal kami dating ke pesta ini.”
          Dua hari sebelum kenduri berlangsung, Azrial, anak laki-laki Makaji datang dari Jakarta. Ia pulang untuk menjemput Makaji. Kini, juru masak itu sudah berada di Jakarta, mungkin tak akan kembali, sebab ia akan menghabiskan hari tua di dekat anaknya. Orang-orang Lareh Panjang akan kehilangan juru masak handal yang pernah ada di kampong itu. Kabar kepergian Makaji sampai juga ke telinga pengantin baru Renggogeni. Perempuan itu dapat membanyangkan betapa terpiuhnya perasaan Azrial setelah mendengar kabar kekasih pujaannya telah dipersunting laki-laki lain.



No.
Struktur Teks
Kalimat dalam Teks
  1.  
Abstrak
Perhelatan bias kacau tanpa kehadiran lelaki itu . Gulai kambing akan terasa hambar lantaran racikan bumbu tidak meresap kedalam daging . Kuah gulai kentang dan gulai rembung bakal encer karena keliru menakar jumlah kelapa parut hingga setiap menu masakan kekurangan santan . Akibatnya, berseraklah fitnah dan celaan yang mesti ditanggung tuan rumah . Bukan karena kenduri kurang meriah, tidak pula karena pelaminan tempat bersandingnya pasangan pengantin tak sedap dipandang mata, tetapi karena macam-macam hidangan yang tersuguh tidak menggugah selera . Nasi banyak dan gulai melimpah, tetapi helat tidak bikin kenyang . Ini celakanya bila Makaji, juru masak handal itu tidak dilibatkan .

  1.  
Orientasi
Beberapa tahun lalu, pesta perkawinan Gentasari dengan Rustamadji yang digelar menyembelih tiga belas ekor kambing dan berlangsung selama tiga hari, tidak berjalan mulus, bahkan hamper saja batal . Keluarga mempelai pria merasa di bohongi oleh keluarga mempelai wanita yang semula sudah berjanji bahwa semua urusan masak-memasak selama kenduri berlangsung akan dipercayakan kepada Makaji, juru masak nomor satu di Lareh Panjang ini. Namun, di hari pertama perhelatan, ketika rombongan keluarga mempelai pria tiba, gulai kambing, gulai nangka, gulai kentang, gulai rebung, dan aneka hidangan yang terjadi ternyata bukan masakan Makaji. Mana mungkin keluarga calon besan bias dibohongi ? Lidah mereka sudah sangat terbiasa dengan masakan Makaji.
“Kalau besok gulai nangka masih sehambar ini, keduri tak usah dilanjutkan! “
Ancaman Sutan Basabatuah, penghulu tinggi dari keluarga Rustamadji.
“Apa susahnya mendatangkan Makaji ?”
“Percuma bikin helat besar-besaran bila menu yang terhidang hanya bikin malu.”
Begitulah pentingnya Makaji. Tanpa campur tangannya, kenduri terasa hambar, sehambar gulai kambing dan gulai rebung karena bumbu-bumbu tak diracik oleh tangan dingin lelaki itu. Sejak dulu, Makaji tidak pernah keberatan membantu mana saja yang hendak menggelar pesta, tak peduli apakah tuan rumah itu orang terpandang yang tamunya membludak atau orang biasa yang hanya sanggup menggelar syukuran seadanya. Makaji tak pilih kasih, meski ia satu-satunya juru masak yang masih tersisah di Lareh Panjang. Di usia senja, ia masih tangguh menahan kantuk, tangannya tetap gesit meracik bumbu, masih kuat ia berjaga semalam suntuk.

  1.  
Komplikasi
“Separuh umur Ayah sudah habis untuk membantu kenduri di kampong ini, bagaimana kalau tanggung jawab itu dibebankan kepada yang lebih muda ?”saran Azrial, putra sulung Makaji sewaktu ia pulang kampong enam bulan lalu.
“Mungkin sudah saatnya Ayah berhenti.”
“Belum ! Akan Ayah pikul beban ini hingga tangan Ayah tak lincah lagi meracik bumbu,” balas Makaji waktu itu.
“Kalau memang masih ingin jadi juru masak, bagaimana Ayah jadi juru masak di salah satu rumah makan milik saya di Jakarta ? Saya tak ingin lagi berjauhan dengan Ayah.”
          Sejak Makaji diam mendengar tawaran Azrial. Tabiat orang tua memang selalu begitu, walau terasa manis gula, tak bakal langsung direguknya, meski sepahit empedu tidak pula buru-buru dimuntahkannya, meski matang ia menimbang. Makaji memang sudah lama menunggu ajakan seperti itu. Orang tua mana yang tak ingin berkumpul dengan anaknya di hari tua ? Dan kini, gayung telah bersambut, sekali saja ia mengangguk, Azrial akan segera memboyongnya ke rantau. Makaji tetap akan mempunyai kesibukan di Jakarta, ia akan jadi juru masak di rumah makan milik anaknya sendiri.
“Beri Ayah kesempatan satu kenduri lagi !”
“Kenduri siapa ?” Tanya Azrial.
“Mengkudun. Anak gadisnya baru saja dipinang orang. Sudah terlanjur Ayah sanggupi, malu kalau tiba-tiba dibatalkan.”
          Merah padam muka Azrial mendengar nama itu. Siapa lagi anak gadis Mengkudun kalau bukan Renggogeni, perempuan masa lalunya. Musabab hengkangnya ia dari Lareh Panjang, ia dijuluki tuan tanah, hamper sepertiga wilayah kampong ini miliknya. Sejak dulu, orang-orang Lareh Panjang yang kesulitan uang selalu beres ditangannya. Mereka tinggal menyebutkan sawah, ladang, atau tambak ikan sebagai agunan. Dengan senang hati  Mangkudun akan memegang gadaian itu.
          Masih segar dalam ingatan Azrial, waktu itu Renggogeni hamper tamat dari akademi perawatan di kota. Tidak banyak Lareh Panjang yang bias bersekolah tinggi seperti Renggogeni. Perempuan kuning langsat pujaan Azrial itu benar-benar akan menjadi juru rawat. Sementara Azrial bukan siapa-siapa, hanya tamatan madrasah aliyah yang sehari-hari bekerja honorer sebagai sekretaris di kantor kepala desa. Ibarat emas yang Loyang perbedaan mereka.
“Bahkan bila ia jadi kepala desa pun, tak sudi saya punya menantu anak juru masak !”bentak Mangkudun. Dan tak lama berselang, kabar ini berdengung juga di telinga Azrial.
“Dia laki-laki taat, jujur, bertanggung jawab. Renggo yakni kami berjodoh.”
“Apa kau bilang ? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat !”
“Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak ?”
“Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau ?”

  1.  
Evaluasi
Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, taka da yang bisa diandalkan. Tetapi tidak patut rasanya Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. Ia hengkang dari kampong, pergi membawa luka hati.

  1.  
Resolusi
          Awalnya ia hanya tukang cuci piring di rumah makan milik seorang perantau dari Lareh Panjang yang lebih dulu mengadu untung di Jakarta. Sedikit demi sedikit dikumpulkannya modal, agar tidak selalu bergantung pada induk semang. Berkat kegigihannya dan kerja keras selama bertahun-tahun. Azrial kini sudah jadi juragan, punya enam rumah makan dan dua puluh anak buah yang tiap hari sibuk melayani pelanggan.
          Barangkali, ada hikmanya juga Azrial mempersunting anak gadis Mangkudun. Kini , lelaki itu kerap disebut sebagai orang Lareh Panjang paling sukses di rantau. Itu sebabnya ia ingin membawa Makaji ke Jakarta. Lagi pula, sejak ibunya meninggal, ayahnya itu sendirian saja di rumah. Tak ada yang merawatnya. Adik-adiknya sudah pergi hamburan ke negeri orang.
          Meski hidup Azrial sudah mapan, tetapi ia masih membujang. Banyak yang ingin mengambilnya jadi menantu, tetapi tak  seorang pun perempuan pun yang mampu meluluhkan hatinya. Mungkin Azrial masih sulit melupakan Renggogeni, atau jangan-jangan ia tak sungguh-sungguh melupakan perempuan itu.


  1.  
Koda
Dua hari sebelum kenduri berlangsung, Azrial, anak laki-laki Makaji datang dari Jakarta. Ia pulang untuk menjemput Makaji. Kini, juru masak itu sudah berada di Jakarta, mungkin tak akan kembali, sebab ia akan menghabiskan hari tua di dekat anaknya. Orang-orang Lareh Panjang akan kehilangan juru masak handal yang pernah ada di kampong itu. Kabar kepergian Makaji sampai juga ke telinga pengantin baru Renggogeni. Perempuan itu dapat membanyangkan betapa terpiuhnya perasaan Azrial setelah mendengar kabar kekasih pujaannya telah dipersunting laki-laki lain.




Kamis, 18 September 2014

Kumpulan Pantun Jenaka





Ikan gabus di rawa-rawa,
Ikan belut nyangkut di jaring,
Perutku sakit menahan tawa,
Gigi palsu loncat ke piring

Dimana kuang hendak bertelur,
Diatas lata dirongga batu,
Dimana tuan hendak tidur,
Diatas dada dirongga susu

Elok berjalan kota tua,
Kiri kanan berbatang sepat,
Elok berbini orang tua,
Perut kenyang ajaran dapat

Anak ayam turun ke bumi,
Induk ayam naik kelangit,
Anak ayam nyari kelangit,
Induk ayam nyungsep ke bumi

Limau purut di tepi rawa,,
Buah dilanting belum masak,
Sakit perut sebab tertawa,,
Melihat kucing duduk berbedak

Jalan-jalan ke rawa-rawa,
Jika capai duduk di pohon palm,
Geli hati menahan tawa,
Melihat katak memakai helm

Sakit kaki ditikam jeruju,
Jeruju ada didalam paya,
Sakit hati memandang susu,
Susu ada dalam kebaya

Disana gunung, disini gunung,
Ditengah-tengah bunga melati,
Saya bingung kamu pun bingung,
Kenapa ada bunga melati ???!?



Naik kebukit membeli lada,
Lada sebiji dibelah tujuh,
Apanya sakit berbini janda,
Anak tiri boleh disuruh

Pohon kelapa, Pohon durian,,
Pohon Cemara, Pohon Palem,
Pohonnya tinggi-tinggi Bo!
Orang Sasak pergi ke Bali,


Tertawa si buta melihatnya
Naik kebukit membeli lada,
Lada sebiji dibelah tujuh,
Apanya sakit berbini janda,

Anak tiri boleh disuruh
Orang Sasak pergi ke Bali,
Membawa pelita semuanya,
Berbisik pekak dengan tuli,


Tertawa si buta melihatnya
Jauh di mata,dekat dihati,
Jauh di hati,dekat dimata,
Jauh-dekat tujuh ratus perak

Ada apa diseberang itu,
Mentimun busuk dimakan kalong,
Ada apa diseberang itu,
Bujang bungkuk gadis belong

Sakit kaki ditikam jeruju,
Jeruju ada didalam paya,
Sakit hati memandang susu,
Susu ada dalam kebaya

Ada buah manggis,
Ada juga buah anggur,
Awalnya romantis,
Pas tekdung malah kabur



Jangan takut,
Jangan kawatir,
Itu kentut,
Bukan petir

Jalan-jalan ke Kota Arab,
Jangan lupa membeli kitab,
Cewek sekarang tidak bisa diharap,
Bodi bohai betis berkurap

Elok berjalan kota tua,
Kiri kanan berbatang sepat,
Elok berbini orang tua,
Perut kenyang ajaran dapat

Buah Nanas, Buah bengkoang,
Buah jambu, Buah kedondong,
Ngerujak dooooooooonggggggg
Senangis letak di timbangan,



Pemulut kumbang pagi-pagi,
Menangis katak di kubangan,
Melihat belut terbang tinggi
Anak Hindu beli petola,

Beli pangkur dua-dua,
Mendengar kucing berbiola,
Duduk termenung tikus tua
Jalan-Jalan ke Kota Sumedang..,

Ada Kambing Makan Rumput..,
Anak-anak pada Senang ..,
Melihat banci Bergoyang Dangdut..
Bunga mawar tangkai berduri,

Laris manis pedang cendol,
Aku tersenyum malu sekali,
Ingat dulu suka mengompol
Anak cina menggali cacing,



Mari diisi dalam tempurung,
Penjual sendiri tak kenal dacing,
Alamat dagangan habis diborong
Biduk buluh bermuat tulang,

Anak Siam pulang berbaris,
Duduk mengeluh panglima helang,
Melihat ayam bercengkang keris
Buah jering dari Jawa,

Naik sigai ke atas atap,
Ikan kering lagi ketawa,
Dengar tupai baca kitab
Pohon manggis di tepi rawa,

Tempat datuk tidur beradu,
Sedang menangis nenek tertawa,
Melihat datuk bermain gundu
Anak dara Datuk Tinggi,



Buat gulai ikan tilan,
Datuk tua tak ada gigi,
Bila makan kunyah telan
Jikalau lengang dalam negeri,

Marilah kita pergi ke kota,
Hairan tercengang kucing berdiri,
Melihat tikus naik kereta
Punggur berdaun di atas kota,

Jarak sejengkal dua jari,
Musang rabun,
helang pun buta,
Baru ayam suka hati

Ketika perang di negeri Jerman,
Ramai askarnya mati mengamuk,
Rangup gunung dikunyah kuman,
Lautan kering dihirup nyamuk



Jual betik dengan kandil,
Kandil buatan orang Inggeris,
Melihat buaya menyandang bedil,
dan kerbau tegak berbaris

Berderak-derak sangkutan dacing,
Bagaikan putus diimpit lumpang,
Bergerak-gerak kumis kucing,
Melihat tikus bawa senapang

Pokok pinang patanya condong,
Dipukul ribut berhari-hari,
Kucing berenang tikus berdayung,
Ikan di laut berdiam diri

Tanam pinang di atas kubur,
Tanam bayam jauh ke tepi,
Walaupun musang sedang tidur,
Mengira ayam di dalam mimpi



Anak bakau di rumpun salak,
Patah taruknya ditimpa genta,
Riuh kerbau tergelak-gelak,
Melihat beruk berkaca mata

Orang menganyam sambil duduk,
Kalau sudah bawa ke balai,
Melihat ayam memakai tanduk,
Datang musang meminta damai

Hilir lorong mudik lorong,
Bertongkat batang temberau,
Bukan saya berkata bohong,
Katak memikul paha kerbau

Di kedai Yahya berjual surat,
Di kedai kami berjual sisir,
Sang buaya melompat ke darat,
Melihat kambing terjun ke air





Oh tuan kemana hilang
Dalam bilik anak dara
Atas pucuk kayu ara
Lebat daunnya pokoknya rindang
Hilang kedalam bilik nak dara
Cuma meminta rokok sebatang
Ambil segulung rotan saga
Sudah diambil mari diurut
Duduk termenung harimau tua
Melihat kambing mencabut janggut
Sudah diambil mari diurut
Diurut dibawah pokok sena
Melihat kambing mencabut janggut
Gajah pula mengorek telinga
Ambilkan bilah pokok sena
Jadikan lata tempat berhandai

Andaikan gajah korek telinga
Giliran buaya hajat berinai
Jadikan lata tempat berhandai
Terbang sekawan burung belibis
Giliran buaya hajat berinai
Pipit pula membilang tasbih
Ambil sejimpit beras dan bertih
Ditabur penawar merubah nasib
Andaikan pipit membilang tasbih
Tafakur elang membaca ratib
Ditabur penawar merubah nasib
Nasib baik bukan sebarang

Tafakur elang membaca ratib
Melihat sitikus mengasah parang
Janda berhias merambah karang
Sirih kuning disangka serai



Melihat tikus mengasah parang
Datang kucing meminta damai
Sirih kuning disangka serai
Dijemur panas daunnya kering
Melihat kucing meminta damai
Ayam memasak pulut kuning
Elok sungguh bunga kantil
Tumbuh kearah kolam telaga



Elok sungguh berbini sungil
Walaupun marah tersenyum juga
Tumbuh kearah kolam telaga
Telaga mencuci badan yang melekit

Walaupun marah tersenyum juga
Tangan ketam cubitnya sakit
Bunga kantil sunting di Aceh
Bunganya putih dalam cerana
Biarlah sungil hatinya kasih
Cubitnya perih saya terima
Bunganya putih dalam cerana
Dipetik dijual didalam pekan
Sementelah cubitan tuan terima
Hatinya jangan tuan lukakan
Bentan Telani diberi nama
Lagunya indah menawan merayu
Jangan hatinya diberi luka
Nantinya hilang kawan beradu
Disana merak disini merak
Merak mana hendak dikepung

Disana hendak disinipun hendak
Pening kepala terajang punggung
Diumpan merak dengan dedak
Hendak ditangkap dengan segera

Di sana hendak di sinipun hendak
Tepuk dada tanyakan selera
Bayan merbah merbuk dara
Terbang bebas hiasan angkasa
Jangan salah tertepuk dada
Badan terhempas mara bencana
Tuan puteri di atas puri
Dato hulubalang di atas padang

Bila dinasihati dengar-dengari
Bila bertepuk pandang-pandang
Air tawar ditambah gula
Lalu dihidang beralaskan kain
Memang awak mencari bala
Pergi menepuk dada yang lain
Bertelepuk emas diatas kain
Ada sirih bergambir tiada
Tak menepuk dada yang lain
Dada sendiri berdaging tiada
Tuah merbuk pada kung-nya
Bandan menukik begap rupa
Raja Chola menggeleng kepala
Berubah tepuk pada dada
Padan menjadi usap dimuka
Inikah tanda millenium tiga ?

Garu pelandok lumut garit
Gugur pucuk habis kontot
Lalu bidukku umbut berkait
Lenguh sendi siku dan lutut

Pelatuk besi lupuh melurut
Harimau dahan pelandok melompat
Melenguh sendi siku dan lutut
Balikkan badan biduk terjungkat



Kerbau putih membongkah tanah
Badak sambu pagut resam
Kalau mandi biarlah basah
Bidukku lalu umbut terendam